Saturday, April 2, 2016

Indonesia Akan Hancur di Tangan Asing Lewat Lobi-lobi dan Penyusupan?

Indonesia Akan Hancur di Tangan Asing Lewat Lobi-lobi dan Penyusupan?

JAKARTA (voa-islam.com)- Keruntuhan sebuah kekuasaan ada yang menggunakan perang, ada pula yang menggunakan kelihaiannya dalam menciptakan perpecahan antar masyarakat. Dan Asing sebagaimana kita ketahui, dari sejak dahulu mereka tidak senang melihat Indonesia tentram dan damai.

Ini pandangan dari aktivis dan juga seorang pengamat politik dari Petisi 28, Haris Rusly. Didapat voa-islam.com berbentuk siaran persnya di kalangan wartawan.

“….Jika kita belajar dari sejarah kerajaan di nusantara, maka kita juga menemukan runtuhnya kerajaan besar seperti Majapahit, justru tidak disebabkan oleh invasi kekuatan militer negara lain. Sebagaimana runtuhnya Uni Sovyet dan bersatunya German, runtuhnya kerajaan Majapahit juga disebabkan oleh operasi mindset yang dilancarkan oleh kekuatan asing.

Datang dari timur dan utara, kekuatan asing mendapatkan ruang gerak untuk menyusupkan dan menyebarkan pandangan baru, memanfaatkan situasi ‘perestorika’ dan ‘glasnot’ yang sedang berlangsung saat Majapahit mencapai puncak kejayaan dan kemajuan fisiknya.
Cara pandang sebagian besar aparatur negara dan rakyat berhasil dikuasai, diubah, dikendalikan dan dibenturkan, moralnya juga dirusak, yang berunjung pada runtuhnya kerajaan tersebut.

Masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945 oleh Soekarno dan Hatta, dapat saja bernasib seperti Uni Sovyet dan Majapahit. Ketika pada watunya negara Indonesia mengalami disintegrasi, pecah, maka segenap rakyat dan aparatur negara dapat saja mendukung dan menyambut dengan gegap gempita.

Karena itu, patut kita waspadai operasi mindset atau perang mindset (the war of mindset), untuk merusak dan memebentuk cara pandang yang mendukung penjajahan asing, yang sedang dilancarkan oleh kekuatan asing saat ini.

Operasi  mindset tersebut ditujukan untuk: Pertama, ‘membunuh’ atau memusnahkan weltanschauung atau pandangan hidup yang menjadi landasan nilai-nilai, ‘semen batin’ atau perekat sebuah bangsa yang sangat beragam. Soekarno dan pendiri bangsa merumuskannya pandangan hidup bangsa tersebut dengan nama Pancasila. ….” (Robi/voa-islam.com)















Mengapa KPK Tangkap Sanusi di Saat Warga Jakarta Fokus Suarakan Dugaan Korupsi Ahok??

Mengapa KPK Tangkap Sanusi di Saat Warga Jakarta Fokus Suarakan Dugaan Korupsi Ahok?

JAKARTA (voa-islam.com)- Direktur Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH), Hatta Taliwang menilai tertangkapnya Anggota DPRD DKI Jakarta beberapa hari lalu oleh KPK terindikasi dan bermuatan politis. KPK juga dilihat olehnya bak ingin mencari sensasi saja dalam menangkap Ketua Komisi D tersebut.

“Dengan kasus OTT terhadap Anggota DPRD DKI Jakarta, Sanusi ternyata KPK masih saja seperti KPK yang dahulu, yakni KPK yang senang dengan berita entertainment korupsi dan karena juga rakyat Jakarta sedang fokus menyerang korupsi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama atau Ahok. Maka mau tidak mau ada yang curiga bahwa OTT terhadap Sanusi terindikasi berbau politis,” demikian katanya melalui siaran pers yang diterima voa-islam.com.

Dari peristiwa tersebut, ia menyatakan satu persatu anak muda yang memiliki potensi untuk Jakarta pun akhirnya berhasil disingkirkan dengan disambut gegap gempita, terutaman datang dari para pendukung mantan Bupati Bangka Belitung, Ahok.

“Satu persatu anak muda potensial calon pemimpin jadi korban jaringan  batman KPK. Lantas bersorak gembira rialah pendukung Ahok karena salah satu anak muda yang potensial mengganggunya pada Pilgub mendatang dengan keberhasilan digusur dari panggung.”

Tidak hanya itu, sambutan pun datang dari orang-orang atau masyarakat yang tidak mengerti perjalanan perpolitikan di Indonesia. “Ikut bersorak pula anak-anak bangsa lainnya yang masih lugu politik dengan mencerca dan memaki Sanusi. Suatu target yang sesuai dengan keinginan dalang dan sponsor dibalik KPK telah ditunaikan dengan berhasil.

Didukung mayoritas media massa yang kini sudah menjadi corong resmi kepentingan kolonialis di negeri ini.” (Robi/voa-islam.com)













Selain OTT, KPK Tangkap Kader Gerindra Hanya karena Ingin Bangun Syariat Islam di Jakarta?

Selain OTT, KPK Tangkap Kader Gerindra Hanya karena Ingin Bangun Syariat Islam di Jakarta?

JAKARTA (voa-islam.com)- Kabar bahwa kader Gerindra ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT) beberapa hari lalu menyisakan pertanyaan: benarkah dia melakukan demikian (korupsi)? Atau ada hal lain? Hanya dirinya, KPK, dan tuhan yang tahu.

Dia baru saja menjadi pembicara. Lalu wartawan berkumpul di salah satu masjid kawasan Tebet, Jakarta Selatan tersebut. Dia adalah Anggota DPRD DKI yang kini disebut-sebut sebagai orang dengan dugaan penerima suap oleh KPK.

Saat itu ia mengahadiri acara konvensi untuk calon Gubernur DKI Jakarta periode mendatang yang diadakan oleh gabungan ormas-ormas yang ada.

Singkat cerita, ada hal yang dapat dijadikan perhatian besar, yakni di mana media mainstream ada menyebut dia sebagai koruptor dan jual agama untuk memenangi kursi di DKI Jakarta. Akan tetapi tersebut tidak mencantumkan kutipan utuh dari orang yang dikenal dengan nama Mohamad Sanusi tersebut.

Namun demikian, ini senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh Sanusi (sebelum OTT oleh KPK), dan ia sadar akan hal itu. Ia bahkan menyebut bahwa saat ini politik sedang mengalami modernisasi. Maksudnya ialah bahwa saat ini politik dapat dikendalikan oleh para awak media yang siapa saja bisa menjadi target ‘ketidaksukaan’.

“Permainan ini belum dimulai. Namun ini permainan politik yang di dalamnya ada pula medianya. Dan bagi saya, suara saya dengan Ahok masih bernilai sama, kok. Nama Ahok juga tidak besar. Kita pun teman,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Ia juga menyatakan bahwa apa yang ditakuti, atau yang ingin membuat takut bahwa bila DKI Jakarta dipimpin seorang muslim akan menerapkan syariah tidak perlu dijadikan kampanye SARA. “Justru ini bagian dari demokrasi dan keberagaman. Tidak apa-apa dan tidak masalah. jangan khawatirkan. Kita tidak ada membicarakan hal-hal SARA dan primordial seperti anggapan orang-orang.

Dan bila menginginkan syariat, ya syariat apa yang harus diinginkan? Tentu kan tidak sama dengan di Aceh. Di Jakarta ini masyarakatnya heterogen. Harus disesuaikan. Dan syariat juga diterapkan kan untuk menciptakan suasana yang kondusif,” jelasnya. (Robi/voa-islam.com)















Friday, April 1, 2016

Mengejar Sisa Waktu Pembebasan Sandera WNI dari Abu Sayyaf

Tersisa delapan hari. Namun Filipina belum izinkan keterlibatan TNI.

Jum'at, 1 April 2016 | 05:31 WIB
Mengejar Sisa Waktu Pembebasan Sandera WNI dari Abu Sayyaf
Parade alutsista HUT TNI ke-70 (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

VIVA.co.id – Enam hari sudah, 10 warga negara Indonesia (WNI) awak kapal tunda Brahma 12 berada dalam sekapan kelompok milisi Abu Sayyaf di daerah Filipina. Sejak mereka dinyatakan disandera pada Sabtu, 26 Maret 2016, Pemerintah Indonesia terus membangun komunikasi dengan otoritas Filipina, terkait upaya pembebasan.
Setiap hari, komunikasi antara Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Retno LP Marsudi dengan Menlu Filipina semakin intensif. Upaya diplomasi pun diarahkan pada pemberian bantuan militer, sehingga Tentara Nasional Indonesia (TNI) bisa memasuki wilayah Filipina dengan membawa persenjataan lengkap. Sejauh ini, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Filipina mengenai keterlibatan TNI untuk membebaskan Kapten Peter Tonsen Barahama dan sembilan orang anak buahnya.
"Kita bersabar, masih menunggu dan kita berkoordinasi dengan pemerintah Filipina meminta jaminan agar WNI yang ditawan segera bisa dibebaskan," ungkap Sekretaris Kabinet Pramono  Anung di Istana Negara, Jakarta, Kamis 31 Maret 2015.
Aparat keamanan Indonesia pun tengah dalam kondisi siaga tinggi melakukan penyerbuan ke lokasi di mana Abu Sayyaf menyandera 10 WNI. Namun, operasi militer tak bisa dilakukan, selama Pemerintah Filipina belum memberikan lampu hijau.
Di sisi lain, Abu Sayyaf terus mendesak agar pihak keluarga mau memberikan tebusan sebesar 50 juta peso, atau sekitar Rp14,2 miliar. Mereka juga memperbaharui batas waktu pemberian tebusan, dari awalnya pada 31 Maret 2016, menjadi 8 April 2016.
Menghadapi situasi yang semakin kritis ini, Presiden Joko Widodo tak berpangku tangan. Menurut Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso, Jokowi sudah menghubungi Presiden Benigno Aquino III, untuk membahas upaya pembebasan sandera.
"Itu yang lagi ada pembicaraan antara Presiden kita dan Presiden mereka (Filipina)," jelas Sutiyoso, usai menghadap Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Kamis 31 Maret 2016.
Di dalam negeri, Presiden pun mengkonsolidasikan jajarannya dan mengumpulkan semua pihak terkait masalah ini, yaitu Menlu Retno dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
"Kita masih punya waktu 8 hari. Ini kita terus negosiasi," tegas Sutiyoso.
Menurut Sutiyoso, pemerintah juga tak bisa mengambil tindakan secara gegabah, karena penetrasi militer akan merusak hubungan diplomasi Indonesia-Filipina. Selain itu, merupakan hal yang wajar jika Filipina mau menyelesaikan masalah ini dengan kekuatan sendiri, karena Abu Sayyaf juga menjadi kepentingan nasional mereka.
"Karena ini adalah di negara orang lain tentu harus ada proses. Proses kerjasama dan izin dari pemerintah Filipina andai kata kita harus mengirim pasukan. Sekali lagi andai kata. Bukan berarti itu opsinya ya," jelas Sutiyoso.
Faksi Al Habsi Misaya
Bertahun-tahun angkatan bersenjata Filipina berupaya keras menghabisi kelompok militan Abu Sayyaf di kawasan Mindanao, Filipina Selatan. Tapi sampai kini, milisi yang lebih senang disebut Harakah Islamiyah itu tak juga tumpas. 
Menurut pengamat terorisme, Ali Fauzi Manzi, yang merupakan adik kandung Ali Imron, pelaku peledakan bom Bali asal Lamongan, Jawa Timur, milisi Abu Sayyaf sudah terbiasa dengan perang. Sejak memisahkan diri dari Moro Islamic Liberation Front (MILF) sekitar ‘90an, mereka sudah menghadapi gempuran militer Filipina. "Mereka sudah biasa bertempur dan mereka enjoy. Perang dianggap hiburan," katanya dihubungi VIVA.co.id pada Rabu, 30 Maret 2016.

Dia pun menjelaskan, kelompok yang menyandera 10 WNI ini adalah faksi yang memisahkan diri, setelah Abu Sayyaf di bawah kepemimpinan Isnilon Totoni Hapilon, menyatakan sumpahnya mendukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Kelompok di bawah pimpinan Al Habsi Misaya ini dinilainya punya karakter yang lebih halus, dibandingkan dengan mereka yang sudah berbaiat ke ISIS.
"Persoalannya kelompok penyandera belum berbaiat dengan ISIS, sehingga operasi dilakukan sendiri, belum ada arahan dari ISIS dan Al Baghdadi (pemimpin ISIS)," kata Fauzi.
Ali pun meyakini, bahwa kelompok ini tidak memiliki kebiasaan menyiksa sandera. Tapi, bukan berarti ancaman mereka bisa dianggap remeh. "Mereka tidak akan menyiksa dan menyakiti. Tapi ending-nya, ketika permintaan mereka tidak dikabulkan, itulah saya khawatir," tuturnya.
Untuk itu, lobi dan pendekatan diplomasi pun menjadi solusi paling tepat saat ini, jika memprioritaskan keselamatan para sandera. "Harus ada lobi yang kuat untuk melibatkan beberapa pihak, dengan memanfaatkan tahanan-tahanan Abu Sayyaf yang ditahan pemerintah Filipina, untuk bernegosiasi dengan mereka. Jadi tidak harus perang," jelas Fauzi.
Pendekatan ini diperlukan, karena selama ini Abu Sayyaf juga mendapatkan dukungan dari masyarakat sekitar. Kelompok ini dianggap sebagai penyelamat bagi masyarakat miskin yang hidup di kawasan Filipina selatan.
"Mereka dianggap sebagai Robin Hood, ketika dapat uang dibagikan pada orang miskin di Basilan, Tawi, Jolo dan wilayah Filipina Selatan lainnya," tambah Fauzi.

Berdasarkan pengalamannya saat diajak bergabung dengan Abu Sayyaf saat dia masih aktif di kamp pelatihan militer MILF pada tahun 1994-1996 di Mindanao, Filipina, Fauzi menyarankan pasukan gabungan TNI nanti tidak gegabah dalam melakukan serangan. "Saya juga pernah bersentuhan dengan orang-orang Abu Sayyaf pada tahun 2002 sampai 2005," ujarnya.
Batasan Yurisdiksi Negara
Menurut Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, dalam upaya pembebasan sandera, pemerintah tidak boleh mengabulkan tuntutan dari pembajak dengan menyerahkan uang. 
"Negara tidak boleh tunduk dan takluk kepada pembajak. Bila pemerintah mengabulkan tuntutan maka akan menjadi preseden buruk. Bukannya tidak mungkin di masa mendatang di jalur laut ini pembajakan akan marak," ujar Hikmahanti saat dihubungi VIVA.co.id, Kamis 31 Maret 2016.
Sejauh ini, dia menilai, tindakan Menlu dan Menteri Pertahanan untuk berkomunikasi dengan masing-masing mitranya di Filipina merupakan langkah diplomasi yang tepat. 
"Otoritas Indonesia tidak seharusnya melakukan upaya penyelamatan dengan menggunakan aparatnya tanpa berkoordinasi dengan otoritas Filipina. Ini penting karena Indonesia harus menghormati kedaulatan Filipina," kata Hikmahanto.
Hikmahanto menilai ada kondisi yang berbeda, dengan saat TNI menggelar operasi pembebasan terhadap awak kapal MV Sinar Kudus di Somalia pada 2011. Saat itu, TNI bisa langsung beroperasi tanpa perlu menunggu izin dari otoritas di Somalia, walaupun kapal itu masuk dalam yurisdiksi Somalia.
"Di Somalia ketika itu tidak ada pemerintahan yang efektif, polisinya tidak ada, hukum tidak berjalan, dan belum lagi banyak negara yang kapalnya dirompak di wilayah itu," jelasnya.
Mengenai kasus pembajakan di negara asing, Hikmahanto mengungkapkan kasus saat ini lebih mirip dengan pembajakan pesawat Garuda Indonesia Penerbangan 206 di bandara Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand tahun 1981. Dalam pembajakan yang dikenal dengan Peristiwa Woyla ini, TNI bergerak sendiri melancarkan operasi militer untuk membebaskan WNI yang menjadi sandera di pesawat, dalam sebuah negara yang memiliki pemerintahan efektif.
Dalam kasus Woyla, mengingat pembajak, pesawat yang dibajak, dan sandera tidak terkait dengan Thailand, maka otoritas negara itu tidak berkeinginan melaksanakan kewenangannya. Untuk itu, otoritas Thailand memberi izin kepada Indonesia untuk melancarkan operasi pembebasan sandera. 
"Dalam konteks saat ini, operasi pembebasan terhadap sandera mirip dengan peristiwa Woyla. Kemungkinan besar otoritas Filipina tidak akan menjalankan kewenangannya. Ini mengingat keterkaitan pembajakan dengan Filipina sangat kecil," ungkap Hikmahanto.
Jika nanti Filipina memang memberikan izinnya, Hikmahanto berharap Pemerintah Indonesia akan mengedepankan penyelesaian secara halus, demi keselamatan para sandera.
"Bila ini yang terjadi, maka otoritas Indonesia akan melakukan upaya pembebasan terlebih dahulu tanpa menggunakan kekerasan. Upaya ini dikenal sebagai perundingan dengan pembajak," tuturnya.
Dalam perundingan, posisi Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar bisa dijadikan sebagai langkah untuk mendekatkan diri dengan kelompok Abu Sayyaf, yang merupakan kelompok milisi Islam. Selain itu, Indonesia juga sudah beberapa kali membantu upaya damai antara masyarakat di Mindanao dengan Filipina.
"Upaya lain melalui perundingan adalah bila mencari pemimpin Abu Sayyaf atau orang yang punya pengaruh terhadap pemimpin Abu Sayyaf. Melalui cara ini diharapkan orang tersebut yang akan menegosiasikan agar pembajak membebaskan sandera," tambahnya lagi.
Namun, bila perundingan gagal, maka opsi tersisa adalah operasi pembebasan yang menggunakan kekerasan. Hikmahanto menggarisbawahi tiga hal yang perlu diperhatikan pemerintah saat melancarkan operasi. 
"Pertama, sedapat mungkin dilakukan dengan memakan biaya minimal, termasuk korban jiwa. Kedua, tindakan tersebut dilakukan secara cepat. Terakhir, operasi tersebut tidak memunculkan tindakan pembalasan yang dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf terhadap kapal-kapal berbendera Indonesia yang berlayar," tuturnya.
Namun apapun tindakan yang diambil nanti, Hikmahanto meminta masyarakat Indonesia percaya bahwa pemerintah akan mengambil opsi terbaik untuk melindungi para sandera. (umi)




















Pasca insiden dengan China, Indonesia Kirim F-16 & Frigate ke Natuna

F-16
F-16 "Fighting Falcon" Indonesia disebutkan dikirim ke Natuna (Foto: tni-au.mil.id)

JAKARTA – Kepulauan Natuna milik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)! Begitu pesan yang ingin kembali ditegaskan pemerintah RI terhadap China, pascainsiden dua pekan lalu, antara kapal patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI dengan kapal penjaga pantai China.
Kala itu, kapal patroli KKP RI dihadang kapal penjaga pantai China, saat KKP hendak menarik kapal pencuri ikan China di Natuna.
Beijing sendiri mengklaim bahwa Natuna masih merupakan wilayah penangkapan ikan tradisional mereka. Sementara Indonesia memanggil Duta Besar (Dubes) China, sekaligus menyerahkan surat protes ke Beijing.
Tak ingin lagi wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia “kemasukan pencuri” lagi, Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu menyatakan TNI siap membentengi wilayah Natuna.
















Danau Tiberias Menyusut, Dajjal Akan Segera Muncul?

Tiberias merupakan danau air tawar yang posisinya paling rendah di dunia. Secara geografis wilayahnya terletak di Palestina dan Suriah, namun saat ini sudah dikuasai oleh Israel. Danau ini menjadi sumber air bersih bagi penduduk Israel untuk pertanian, sanitasi, dan air minum.

Danau Tiberias ternyata memiliki arti penting bagi umat Islam. Dalam sebuah hadist, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa danau yang juga dijuluki Galilee ini menandai kedatangan Dajjal, sosok eskatologi Islam yang dilaknat Allah dan akan muncul pada akhir zaman.

Ironisnya, kondisi saat ini menunjukan debit air Tiberia yang terus menurun dengan drastis. Sejumlah pakar menyebutkan bahwa saat ini hanya tinggal menunggu waktu untuk mengering. Lantas benarkah Dajjal akan segera muncul dan membuat kerusakan di muka bumi?

Pemerintah Israel dikutip dari situs www.savekinneret.com, menjelaskan bahwa  Danau Kinneret (Tiberias) sedang mengering. Hal ini disebabkan curah hujan di wilayah tersebut di bawah rata-rata. Sedangkan ketinggian air kini sudah berada pada "garis hitam", di mana air tidak akan bisa dipompa lagi dan menyebabkan gangguan pada pasokan air.

Setiap hari, sekitar 1,7 juta meter kubik air terkuras dari Danau Tiberia atau sekitar 400 juta meter kubik per tahun. Dengan kondisi ini, debit air terus menurun dan diperkirakan akan terus terjadi. Mengingat di Israel terjadi peningkatan populasi, baik karena kelahiran, migrasi orang orang Yahudi dari berbagai penjuru dunia menuju Israel, maupun kebutuhan industri dan pertanian di sana.

Sesekali debit air mengalami peningkatan jika iklim dan cuaca dan mendukung. Namun, hingga kini kondisi permukaanya masih bertengger di garis hitam. Hal ini menjadi persoalan serius  bagi negara tersebut.

Ternyata tidak hanya menjadi masalah serius bagi Israel, persoalan penyusutan Danau Tiberia menjadi tanda kemunculan Dajjal. Sosok makhluk bermata satu ini menjadi musuh umat islam yang kehadirannya masih menjadi misteri. Namun Nabi Muhammad SAW memberikan tanda-tanda bagaimana kemunculan Dajjal. Salah satu tandanya adalah turunnya permukaan air danau ini.

Rasulullah SAW menjelaskan dalam satu riwayat Imam Muslim, diriwayatkan dari Fatimah binti Qais bahwa beliau radhiallahu 'anhu berkata:

“Saya mendengar juru panggil Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru: Shalat Jama’ah! Shalat jama’ah” (panggilan seperti ini biasanya hanya pada waktu shalat atau apabila ada sesuatu yang sangat penting). Fatimah binti Qais melanjutkan, “Maka saya pun pergi ke masjid dan shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan saya berada pada shaf pertama para wanita. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai beliau duduk di atas mimbar.

Beliau tertawa kemudian berkata,’Hendaklah masing-masing tetap di tempat! Tahukah Anda semua mengapa saya kumpulkan?’ Para Shahabat menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Bukan karena suatu kabar gembira, bukan pula karena suatu ancaman, tetapi karena Tamim ad-Dari tadinya seorang pemeluk nasrani lalu dia datang menyatakan keislamannya dan menceritakan kepada saya kejadian yang sesuai dengan yang pernah saya sampaikan kepada kalian semua tentang al-Masih ad-Dajjal. Dia menceritakan kepada saya bahwa dia berlayar dengan tiga puluh orang dari Lakhm dan Juzam, lalu ombak besar membuat mereka terombang ambing di lautan sebulan lamanya hingga akhirnya mereka terdampar di sebuah pulau di arah timur matahari. Mereka pun turun dan duduk beristirahat dekat kapal mereka lalu memasuki pulau tersebut. Mereka kemudian bertemu dengan makhluk melata yang dipenuhi bulu. Saking banyaknya bulunya mereka tidak tahu mana bagian depan dan bagian belakangnya. Mereka berkata, Makhluk apakah Engkau ini?’ Makhluk itu berkata, Aku adalah Jassasah (Pengintai).’ Mereka bertanya, Apa itu Jassasah?’ Makhluk tu menjawab, ‘Pergilah kalian menemui laki-laki yang ada di gedung besar sana, dia sangat ingin mendengar berita dari kalian.’

Tamim berkata, ‘Ketika dia menyebut nama seorang laki-laki, kami takut bahwa makhluk itu adalah setan. Maka kami pun bergegas pergi sampai kami menemukan bangunan besar itu lalu masuk ke dalamnya. Di sana ada seorang manusia yang paling besar dan paling kuat yang pernah kami lihat. Kedua tangannya terbelenggu ke lehernya diantara kedua lutut dan sikunya. Kami berkata, ‘Celakalah engkau, makhluk apakah engkau ini?’

Dia menjawab, kalian mampu menemukanku, beritahu saya siapa kalian ini!’ Mereka (Tamim dan rombongan) menjawab, ‘Kami adalah orang-orang Arab, kami naik kapal laut, tiba-tiba ombak pasang dan kami pun terombang-ambing selama satu bulan sampai akhirnya terdampar di pulau Anda ini. Kami pun merapat dan memasukinya. Tiba-tiba kami bertemu dengan makhluk melata yang berbulu sangat lebat sehingga sulit mengetahui mana depan dan mana bagian belakangnya. Kami berkata kepadanya, ‘Celakalah engkau, makhluk apakah kau ini?’ Dia menjawab, Aku adalah jassasah (Pengintai).’ Kami pun berkata, Apakah jassasah itu?’ Dia berkata, ‘Pergilah temui laki-laki yang ada di bangunan besar itu karena dia sangat ingin mendengarkan berita dari kalian!’ Maka kami pun bergegas menemuimu, dan merasa takut dengan makhluk itu dan menyangka dia adalah setan.

Laki-laki besar itu berkata, ‘Beritahukan kepada saya tentang kebun kurma Baisan!’ Kami berkata, ‘Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?’ Dia berkata, ‘Tentang pohon-pohon kurmanya, apakah masih berbuah?’ Kami berkata, ‘Ya.’ Dia berkata, ‘Ketahuilah kurma-kurma itu hampir tidak lagi berbuah. Beritakan kepadaku tentang danau Tiberias!’ Kami pun berkata, ‘Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?’ Dia berkata, Apakah di sana ada airnya?’ Kami menjawab, ‘Danau itu banyak airnya, ‘Dia berkata, ‘Ketahuilah airnya tak lama lagi akan habis.

Beritahu saya tentang sumber air Zagar!’ Kami berkata, ‘Tentang apanya yang ingin engkau ketahui?’ Dia berkata, Apakah masih banyak airnya? Apakah penduduk sekitarnya memanfaatkan airnya untuk bercocok tanam?’ Kami menjawab, ‘Ya, airnya banyak, penduduk sekitar memanfaatkannya untuk bercocok tanam.’

Dia berkata, ‘Beritakan kepada saya tentang Nabi kaum yang ummi, apa yang telah dilakukannya?’ Mereka menjawab, ‘Dia telah muncul di Mekkah dan tinggal di Yasrib,’ Dia berkata, Apakah orang-orang Arab memerangi mereka?’ Kami menjawab, ‘Ya.’ Dia berkata, Apa yang dilakukannya kepada mereka?’ Maka kami pun memberitahurnya bahwa telah tampak para pengikutnya dari kalangan orang-orang Arab, mereka mematuhinya. Dia berkata, ‘Itu sudah terjadi?’

Kami menjawab, ‘Ya,’ Dia berkata, jika demikian maka yang terbaik bagi kalian ialah mematuhinya. Aku beritahukan kepada kalian siapa sesungguhnya aku ini. Aku adalah al-Masih, hampir datang waktunya aku diizinkan keluar, lalu akan berjalan mengelilingi bumi, tidak satu kampung pun yang tidak kusinggahi dalam waktu empat puluh malam kecuali Mekkah dan Taibah karena keduanya diharamkan atasku. Setiap kali aku berusaha untuk memasuki salah satu dari keduanya aku akan dihadang oleh Malaikat yang memegang pedang mengusir saya menjauhi kedua kota itu. Setiap celah kota itu dijaga oleh para malaikat.”

Fatimah binti Qais (perawi hadits) berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentakkan tongkat beliau ke mimbar dan berkata, ‘Inilah Taibah, inilah Taibah (maksud beliau Madinah). Bukankah saya pernah menyampaikannya hal seperti ini kepada kalian?’ Para hadirin menjawab, ‘Benar,’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan, ‘Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh Tamim membuatku kagum karena sesuai dengan yang pernah saya sampaikan kepada kalian tentang Dajjal, Madinah dan Mekkah. Dia berada di laut Syam atau laut Yaman; bukan, tetapi dia ada di timur, dia ada di timur, dia ada di timur!’ Beliau pun memberi isyarat dengan tangannya ke arah timur. Fatimah melanjutkan, “Maka saya pun menghafalnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Dengan berita ini, tentu saja penyusutan Danau Tiberias menjadi salah satu tanda kemunculan Dajjal. Sebagai muslim, kita harus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita agar kita terhindar dari fitnah Dajjal.

Ya Allah lindungilah kami dari fitnah Dajjal...
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com